SD.Mukrida — Suasana haru dan bangga masih terasa dalam rangkaian Wisuda Imtihan dan Tahfidz SD Muhammadiyah 2 Krian (SD Mukrida), Sabtu (14/02/2026). Di tengah prosesi penuh makna tersebut, satu hal yang menguat adalah kesadaran bahwa setiap capaian para wisudawan lahir dari proses panjang yang melibatkan perjuangan siswa, bimbingan sekolah, serta doa orang tua yang tak pernah putus.
Dari 68 wisudawan Wisuda Tahfidz ke V SD Mukrida, dua capaian istimewa mencuri perhatian sekaligus menjadi sumber inspirasi. Pertama, ananda Ghina Fathin Fadillah sebagai siswa dengan hafalan terbanyak. Kedua, ananda Zahid Alzam, wisudawan termuda yang masih duduk di kelas 2 SD namun telah menuntaskan hafalan Juz 30.
Prestasi tersebut tentu tidak lahir dari usaha anak semata. Di balik keberhasilan itu, ada peran besar orang tua yang setia membersamai proses menghafal setiap hari mulai dari pendampingan murojaah, pengaturan waktu belajar, hingga doa yang terus dipanjatkan.
Ibu Alfi Wahyuning Miladyah, ibunda Ghina Fatin, membagikan pengalamannya dalam mendampingi anak menghafal Al-Qur’an di tengah tantangan era digital.
“Yang pertama tentu berdoa dan murojaah. Itu sangat penting bagi para hafidz. Hafalan harus terus diulang agar tidak hilang,” tuturnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan anak agar mampu menambah hafalan secara konsisten. Namun menurutnya, ada satu hal yang tidak kalah utama, yakni menjaga kehalalan makanan.
“Usahakan makan yang halal dan baik. Apa yang dimakan anak sangat berpengaruh pada tumbuh kembang, perilaku, dan sifatnya. Dan makanan halal itu bukan hanya dari zatnya saja, tapi juga dari sumber rezeki untuk membelinya,” jelasnya.
Sementara itu, Ibu Nastiti Istiqomah Muchin, ibunda Zahid Alzam, menyampaikan bahwa kemampuan sang putra merupakan amanah dari Allah yang harus dijaga sebaik mungkin.
“Kemampuan Alzam ini anugerah dari Allah. Jadi kami sebagai orang tua tidak boleh menyia-nyiakannya,” ujarnya.
Ia bercerita bahwa sejak kecil Zahid kerap diperdengarkan murottal Juz 30. Dari kebiasaan mendengar itulah hafalan tumbuh secara alami. Selain itu, ia juga selalu mendampingi saat murojaah dan menambah hafalan.
“Selain untuk menjaga hafalan, ini juga menjadi bonding antara orang tua dan anak. Mendampingi hafalan adalah bentuk ikhtiar kami sebagai orang tua,” tambahnya.
Kisah dua keluarga tersebut menjadi penguat bahwa keberhasilan anak dalam menghafal Al-Qur’an merupakan hasil sinergi antara sekolah dan keluarga. Bukan sekadar kecerdasan atau bakat semata, melainkan buah dari doa, kesabaran, konsistensi, serta keberkahan yang terus diupayakan setiap hari.
Wisuda Tahfidz ke-5 ini pun tak hanya menjadi seremoni kelulusan, tetapi potret nyata kolaborasi orang tua dan sekolah dalam melahirkan generasi Qur’ani generasi yang siap melangkah bersama Al-Qur’an menembus masa depan.


Tuliskan Komentar Anda